Mitos atau Fakta: Rendang Makanan Asli Indonesia Bukan Malaysia?

Table of Contents
Mitos atau Fakta: Rendang Indonesia vs Rendang Malaysia

Rendang bukan sekadar makanan, ia adalah representasi budaya, sejarah, dan filosofi hidup masyarakat Minangkabau. Dalam berbagai survei kuliner internasional, rendang selalu menempati posisi istimewa, bahkan pernah dinobatkan oleh CNN Travel sebagai hidangan terenak di dunia pada tahun 2011 dan 2017. Namun, di balik kemasyhurannya, muncul perdebatan hangat di dunia maya: apakah rendang benar-benar makanan asli Indonesia, atau justru Malaysia juga berhak mengklaimnya?

Sebelum membahas lebih jauh, kita perlu menelusuri bukti akademik dan sejarah yang sudah terdokumentasi. Sejumlah penelitian dari universitas seperti Universitas Andalas dan berbagai jurnal terindeks Garuda menunjukkan bahwa rendang berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, dan berkembang sejak abad ke-16, jauh sebelum konsep negara modern seperti Indonesia atau Malaysia lahir.

Masyarakat Minang dikenal memiliki tradisi merantau dan berlayar ke Semenanjung Malaya. Dalam proses itulah rendang, dengan ketahanannya yang bisa berbulan-bulan, menjadi bekal ideal untuk perjalanan panjang melintasi Selat Malaka. Dari sinilah rendang kemudian dikenal luas dan mengalami berbagai adaptasi di wilayah Melayu lainnya.

Artikel ini mengulas secara ilmiah dan terstruktur, berdasarkan berbagai sumber jurnal penelitian kredibel seperti karya M. Yenny (2023), N. Darmayanti (2017), dan Arlinda (2021), untuk menegaskan bahwa rendang adalah warisan asli Minangkabau yang telah mendunia.​

Apa Itu Rendang?

Definisi Rendang Secara Umum

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, rendang berasal dari kata merandang, yang berarti proses memasak santan menjadi kering melalui pemanasan perlahan. Secara kuliner, rendang merupakan masakan berbahan dasar daging (biasanya sapi atau kerbau) yang dimasak bersama santan dan campuran rempah tradisional seperti serai, lengkuas, jahe, kunyit, bawang, dan cabai.

Proses memasaknya yang panjang, sekitar 4 hingga 8 jam, bertujuan mengeluarkan minyak alami dari kelapa dan membuat bumbu meresap sempurna ke dalam daging. Hasil akhirnya berwarna cokelat tua kehitaman dengan rasa gurih, pedas, dan kompleks.

Sejarah Panjang Rendang

Rendang pada Tahun 1900-an

Catatan sejarah yang ditemukan oleh peneliti Ipai Permana (2020) menyebutkan bahwa istilah rendang muncul dalam literatur abad ke-19. Kolonel Stuers dalam catatannya sekitar tahun 1827 menyinggung adanya masakan tradisional “yang dihitamkan dan tahan lama”, yang diduga kuat merujuk pada rendang.​

Namun, asal mula rendang jauh lebih tua. Berdasarkan penelitian Y.A. Arlinda (2021) dan Amalia (2019), masakan ini sudah dikenal sejak abad ke-16, yaitu masa ketika Kerajaan Pagaruyung di bawah pemerintahan Raja Adityawarman (1347–1375 M) telah menjalin hubungan dagang lintas laut hingga ke Asia Selatan. Dari sinilah mulai terjadi akulturasi pengaruh kuliner India dan Arab ke wilayah Minangkabau.​

Sejarawan Prof. Dr. Gusti Asnan dari Universitas Andalas juga menyebutkan bahwa pada masa itu, rendang digunakan sebagai bekal perjalanan para perantau Minang yang berlayar ke Malaka. Karena dimasak hingga kering, rendang bisa tahan hingga berbulan-bulan tanpa pengawet alami. Inilah yang menjadikannya istimewa dan fungsional secara historis.

Perkembangan Olahan Rendang Tahun 2000-an

Memasuki era modern, rendang tidak hanya menjadi makanan khas Padang, tetapi juga simbol diplomasi budaya Indonesia. Banyak restoran Padang di dunia, dari Dubai hingga London, menjadikan rendang sebagai menu unggulan. Keunggulannya yang adaptif turut menginspirasi kreasi baru seperti rendang ayam, rendang paru, hingga rendang vegan berbahan jamur.

Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal IKE (2024), perkembangan rendang pada abad ke-21 juga menunjukkan potensinya sebagai produk ekonomi kreatif ekspor. Produksi rendang kemasan, misalnya, terus meningkat karena daya simpan panjang dan cita rasanya yang tetap autentik.​

Perbandingan Rendang Indonesia vs Malaysia

Ciri Khas Rendang Indonesia

Rendang Minangkabau memiliki ciri utama berupa tekstur yang sangat kering, bumbu pekat, dan warna cokelat gelap. Proses memasaknya dilakukan dalam waktu lama, biasanya lebih dari empat jam dengan api kecil hingga santan benar-benar menyusut dan minyak keluar. Rasa rendang Indonesia kuat karena penggunaan rempah kompleks seperti cengkih, kayu manis, dan kunyit.

Selain aspek rasa, rendang di Indonesia juga sarat makna filosofis. Dalam kebudayaan Minangkabau, setiap bahan memiliki arti: daging melambangkan pemimpin, santan sebagai kaum intelektual, cabai sebagai ulama yang tegas, dan bumbu lainnya sebagai rakyat yang saling melengkapi. Dengan demikian, rendang menggambarkan konsep musyawarah dan keharmonisan sosial masyarakat Minang.

Ciri Khas Rendang Malaysia

Sementara di Malaysia, rendang memiliki tampilan dan cita rasa yang berbeda. Menurut Lilly T. Erwin (2013) dan analisis Merdeka.com (2024), rendang Malaysia lebih basah, berwarna lebih terang, dan biasanya hanya dimasak 1–2 jam. Teksturnya menyerupai kalio di Indonesia, rendang setengah jadi yang belum benar-benar kering.​

Bumbu yang digunakan juga sedikit berbeda; di Malaysia, sering ditambahkan kerisik, yaitu kelapa parut yang disangrai, untuk menambah kekentalan. Cita rasa rendang Malaysia cenderung lebih manis dan ringan dibandingkan versi Minang yang pedas dan tajam aromanya.

Varian Rendang Kekinian yang Lebih Modern

Modernisasi kuliner membuat rendang menjelma ke berbagai bentuk. Di beberapa kota besar seperti Jakarta dan Medan, muncul varian rendang fusi seperti spaghetti rendang, burger rendang, dan bahkan rendang pizza. Inovasi-inovasi ini dilakukan untuk memperluas daya tarik sekaligus memperkenalkan rendang pada generasi muda.

Namun, meski varian modern terus bermunculan, rendang tradisional tetap dianggap otentik. Bahkan dalam upaya pelestarian, pemerintah Sumatera Barat tengah mendorong pendaftaran Indikasi Geografis (IG) untuk rendang Minangkabau sebagai perlindungan hukum internasional atas keasliannya.​

Kesimpulan: Jadi, Rendang Berasal dari Mana?

Ketika ditanya “rendang makanan asli mana?”, jawaban paling akurat berdasarkan bukti ilmiah adalah: Rendang berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, Indonesia. Bukti sejarah dari abad ke-16 hingga catatan kolonial abad ke-19 memperkuat bahwa rendang telah ada jauh sebelum konsep negara Malaysia terbentuk.

Meskipun begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa rendang juga telah menjadi warisan bersama masyarakat Indo-Melayu, terutama karena hubungan budaya dan migrasi perantau Minang ke Semenanjung Malaya. Dengan kata lain, rendang merupakan hasil persebaran budaya Indonesia yang berpengaruh kuat di kawasan Nusantara dan sekitarnya.

Secara akademik dan historis, berbagai penelitian dari jurnal kredibel seperti IKE (2024), PTBB (2021), serta data arkeologis menunjukkan satu kesimpulan bulat: Rendang adalah ikon kuliner Indonesia. Proses panjang pembuatan, kekayaan rempah, dan makna filosofisnya menggambarkan nilai-nilai keuletan dan kebersamaan khas Minangkabau.